Selasa, 22 Maret 2016

Iranian MP sparks outrage by stating 'women, donkeys and monkeys have no place in parliament'

A hardline Iranian MP was under mounting pressure to resign on Wednesday after being caught on camera stating that women and donkeys had no place in parliament.
Nader Qazipour made the claims during a victory speech after being re-elected as an MP for the city of Urmia.
“Parliament is not the place for donkeys and foals, monkeys and women,” Mr Qazipour, 57, said to the cheers of his group of supporters, largely made up of men.
Nader Qazipour a hardline Iranian MP caught on video making the misogynistic claims leading to calls for him to resign
telegraph.co.uk

rahbar iran

Sabtu, 20 Februari 2016

SUBHANALLAH...Polwan Cantik Ini Penghafal Alquran



   Bripda Rizka Munawwaroh. Dialah personel Polda Sumatera Selatan yang hafal 20 juz Alquran. Polisi wanita berparas ayu ini terus berusaha menuntaskan hafalan hingga 30 juz.

Rizka lahir di Palembang pada 15 Agustus 1996. Bungsu dari dua bersaudara itu telah menghafal Alquran sejak duduk di bangku sekolah dasar.

“Meski sempat berhenti, namun SMP ia kembali menghafal hinggan saat ini,” demikian keterangan yang dilansir Humas Polri.

Dalam menghafal, Rizka meggunakan sistim membaca tiga kali, lalu diulang kembali per ayat. “Dengan ini, ia yakin dapat menghafal Alquran sebanyak 30 juz.”

Misalnya, saat lulus SMA, dia punya cita-cita kuliah di Mesir. Setelah ikut tes, ternyata lulus seleksi.

Pada saat bersamaan, Rizka ikut tes polisi, dan lulus pula. Setelah memikirkan masak-masak, dia akhirnya memutuskan menjadi Polwan. ”Rizka menganggap menjadi aparatur negara adalah jalan hidupnya.”

Meski demikian, Rizka tak meninggalkan usahanya menghafal Alquran. Di samping kesibukan sebagai polisi, dia tetap berusaha menghafal Kitab Suci.

“Harapannya kedepan, Bripda Rizka dapat menuntaskan menghafal Alquran hingga 30 juz.”

Kamis, 11 Februari 2016

Putuskan Berhijab, Maia Estianti Mulai Tinggalkan Dunia Musik

Mantan istri Ahmad Dhani dan mantan anggota group Ratu, Maia Estianti (39) memutuskan untuk mengenakan hijab. Keputusan berhijab diambil setelah Maia memutuskan untuk mulai mengurangi bermusik sejak ditinggal Mey Chan rekan duetnya ke Singapura.
Maia kini beralih ke bisnis kecantikan dan perawatan kulit. Bisnis barunya kini menjadi perioritasnya dalam kesibukannya sehari-hari. Maia mengatakan sejak Mey Chan pindah ke Singapura, praktis kesibukannya di panggung musik menjadi berkurang dan berhenti.
Kesempatan tersebut digunakan Maia untuk memutuskan berhijab dan menggeluti dunia yang baru, yaitu berbisnis.
“Ini usaha saya diluar musik. Sekarang musik justru sudah menjadi masa lalu saya, saya sudah bosen,” ucap Maia.
Apalagi Maia merasa, lewat berbisnis, ilmu yang pernah didapatkan selama kuliah di jurusan komunikasi, Universitas Indonesia (UI), Depok, berguna.
“Tugas saya branding. Ilmu saya kepake. Tantangan saya itu mengenalkan produk biar orang tahu,” tutur ibunda Al, El, dan Dul ini.


Minggu, 07 Februari 2016

Syair Imam Ali as teruntuk Sayyidah Fatimah as.


ﻚﺒﺣﺍ ﺎﻤﻠﺜﻣ ﻲﺘﻧﺍ
Uhibbuki mitsla maa anti
Aku mencintaimu apapun dirimu
ﻚﺒﺣﺍ ﺎﻤﻔﻴﻛ ﻲﺘﻨﻛ
Uhibbuki kaifa maa Kunti
Aku mencintaimu bagaimanapun
keadaanmu
ﺎﻤﻬﻣﻭ ﻥﺎﻛ ﺎﻤﻬﻣ ﺭﺎﺻ
Wa mahmaa kaana mahmaa shooro
Apapun yang terjadi dan selamanya
ﻲﺘﻧﺍ ﻰﺘﺒﻴﺒﺣ ﻲﺘﻧﺍ
Antii habiibatii anti
Engkaulah cintaku
ﻲﺘﺟﻭﺯ
Zaujatii
Duhai istriku
ﻲﺘﻧﺍ ﻰﺘﺒﻴﺒﺣ ﻲﺘﻧﺍ
Antii habiibatii anti
Engkaulah kekasihku
ﻲﻟﻼﺣ ﺖﻧﺍ ﻻ ﻰﺸﺧﺍ ﻻﻭﺰﻋ ﻪﻤﻫ ﻲﺘﻘﻣ
ﺪﻘﻟ ﻥﺫﺍ ﻥﺎﻣﺰﻟﺍ ﺎﻨﻟ ﻞﺻﻮﺑ ﺮﻴﻏ ﻲﺘﺒﻨﻣ
Halaalii anti laa akhsyaa ‘azuulan
himmuhuu maqti
Laqod adzinaz zamaanu lanaa
biwushlin ghoiri
munbatti
Engkau istriku yang halal, aku tidak
peduli celaan orang.
Kita satu tujuan untuk selamanya.
ﺖﻴﻘﺳ ﺐﺤﻟﺍ ﻲﻓ ﻲﺒﻠﻗ ﻦﺴﺤﺑ ﻞﻌﻔﻟﺍ ﺖﻤﺴﻟﺍﻭ
ﺐﻴﻐﻳ ﺪﻌﺴﻟﺍ ﻥﺇ ﺖﺒﻏ ﻮﻔﺼﻳﻭ ﺶﻴﻌﻟﺍ ﻥﺇ ﺖﺌﺟ
Saqoitil hubba fii qolbii bihusnil fi’li
wassamti
yaghiibus sa’du in ghibti wa yashful
‘aisyu in ji’ti
Engkau sirami cinta dalam hatiku
dengan indahnya perangaimu.
Kebahagiaanku lenyap ketika kamu
menghilang lenyap ,
Hidupku menjadi terang ketika kamu
disana.
ﻱﺭﺎﻬﻧ ﺡﺩﺎﻛ ﻰﺘﺣ ﺍﺫﺇ ﺎﻣ ﺕﺪﻋ ﺖﻴﺒﻠﻟ
ﻚﺘﻴﻘﻟ ﻰﻠﺠﻧﺎﻓ ﻲﻨﻋ ﻯﺎﻨﺿ ﺍﺫﺍ ﺎﻣ ﺖﻤﺴﺒﺗ
Nahaarii kaadihun hattaa idzaa maa
‘udtu lilbaiti
Laqiituki fanjalaa ‘annii dhonaaya idzaa
maa tabassamti
Hari2ku berat sampai aku kembali ke
rumah menjumpaimu.
Maka lenyaplah keletihan ketika kamu
senyum.
ﻖﻴﻀﺗ ﻰﺑ ﺓﺎﻴﺤﻟﺍ ﺍﺫﺍ ﺎﻬﺑ ﺎﻣﻮﻳ ﻲﺘﻣﺮﺒﺗ
ﻰﻌﺳﺄﻓ ﺍﺪﻫﺎﺟ ﻰﺘﺣ ﻖﻘﺣﺍ ﺎﻣ ﻲﺘﻴﻨﻤﺗ
Tadhiiqu biyal hayaatu idzaa bihaa
yauman tabarromti
Fa as’aa jaahidan hattaa uhaqqiqo maa
tamannaiti
Jika suatu saat hidupmu menjadi sedih,
maka aku akan berusaha keras sampai
benar mendapatkan apa yang engkau
inginkan.
ﻰﺋﺎﻨﻫ ﺖﻧﺍ ﻰﺌﻨﻬﺘﻠﻓ ﺀﻑﺪﺑ ﺐﺤﻟﺍ ﺎﻣ ﻲﺘﺸﻋ
ﺎﻧﺎﺣﻭﺮﻓ ﺪﻗ ﺎﻔﻠﺘﺋﺍ ﻞﺜﻤﻛ ﺽﺭﻻﺍ ﺖﺒﻨﻟﺍﻭ
Hanaa’ii anti faltahna’ii bidifil hubbi
maa ‘isyti
Faruuhanaa qodi’talafaa kamitslil ardhi
wannabti
Engkau kebahagiaanku. Tanamkanlah
kebahagiaan
selamanya.
Jiwa2 kita telah bersatu bagaikan tanah
dan tumbuhan

Senin, 01 Februari 2016

Orang-orang Yang Dilaknat Di Dalam Al-Quran Dan Hadis. Hati-hari dengan orang yang Ahli Fitnah.


Dilaknat artinya disingkirkan dan dijauhkan oleh Allah dari rahmat-Nya, dan dimurkai oleh-Nya.
Orang-Orang yang dilaknat dan dikutuk di dalam Al-Qur’an:
1. Orang-orang kafir dan yang ingkar
“Mereka berkata: hati kami tertutup. Tetapi sebenarnya Allah telah melaknat mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman.” (Al-Baqarah: 88)
“Sesungguhnya Allah melaknat orang-orang yang kafir, dan menyiapkan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka).” (Al-Ahzab: 64).
2. Orang-orang yang menentang kebenaran
“Hai orang-orang yang telah diberi Al-kitab, berimanlah kamu pada apa yang telah Kami turunkan (Al-Qur’an) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami merubah wajahmu, lalu Kami laknat mereka sebagaimana Kami telah melaknat orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu, dan ketetapan Allah pasti berlaku.” (Al-Nisa’: 47)
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al-Kitab? Mereka mempercayai Jibt dan Thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah. Barangsiapa yang dilaknat oleh Allah, niscaya kamu kamu tidak akan mendapat penolong baginya.” (An-Nisa’: 51-52).
3. Para pemimpin dan pembesar yang menyesatkan
“Pada hari ketika wajah mereka dibolak-balikkan di dalam neraka, mereka berkata: sekiranya kami mentaati Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka berkata: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan
kami dari jalan yang benar. Ya Tuhan kami, timpakan kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.” (Al-Ahzab: 66-68)
4. Orang-orang yang memutuskan silaturrahim, dan orang-orang yang murtad
“Apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan memutuskan silaturrahim? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan ditulikan telingan mereka serta dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (Muhammad: 22-23)
5. Orang-orang yang menentang undang-undang Ilahiyah dan menyimpan kebenaran.
“Sesungguhnya orang-orang yang menyimpan apa yang Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami menerangkannyakepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh semua makhluk yang dapat melaknat. Kecuali mereka yangtelah bertaubat dan melakukan perbaikan dan menerangkan kebenaran,
mereka itu Akulah Yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 159-160)
6. Para pemimpin kekufuran dan pelaku kerusakan di muka bumi
“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di muka bumi, orang-orang itulah yang mendapat laknat dan lagi mereka yang memperoleh kediaman yang buruk (Jahannam).” (Ar’d: 25).
7. Orang-orang munafik yang menyakiti Rasulullah saw
“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allahakan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (Al-Ahzab: 57)
“Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari penyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu untuk memerangi mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu melainkan dalam waktu yang sebentar, dalam keadaan terlaknat. Dimana
saja mereka jumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-sehebatnya.” (Al-Ahzab: 60-61)
“Allah mengancam orang-orang munafik laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah melaknat mereka. Bagi mereka azab yang abadi.” (At-Taubah: 68).
8. Orang-orang yang zalim
“Penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-penghuni neraka: Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang dijanjikan kami oleh Tuhan kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan yang sebenarnya apa yang dijanjikan kepadamu oleh Tuhanmu? Mereka penghuni neraka menjawab: Betul. Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: Laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim.” (Al-A’raf: 44)
“Mereka itu (orang-orang yang zalim) balasannya: Sesungghnya atas mereka laknat Allah ditimpakan, demikian juga laknat malaikat dan semua manusia.” (li-Imran: 87).
9. Orang-orang yang membunuh orang mukmin
“Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah Jahannam, kekal di dalamnya, Allah murka dan melaknatnya, dan menyiapkan baginya azab yang besar.” (An-Nisa’: 93).
10. Iblis. (Al-Hijr/15: 35; Shaad: 78)
“Sesungguhnya atasmu (Iblis) laknat sampai hari kiamat.” (Al-Hijr/15: 35)
11. Orang-orang yang menuduh berzina terhadap perempuan yang baik-baik dan suci
“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita baik-baik dan beriman (berbuat zina), mereka dilaknat di dunia dan di akhirat, dan bagi mereka azab yang besar.” (An-Nur: 23)
12. Orang-orang yang menyalahi pemimpin yang saleh
“Mereka selalu diikuti laknat di dunia dan hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum ‘Ad itu kafir kepada Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum ‘Ad yaitu kaum Hud.” (Hud: 60).
“Itu adalah sebagian dari berita-berita negeri (yang dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Mhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada pula yang telah musnah.” (Hud: 100).

Orang-orang yang dilaknat di dalam hadis Rasulullah saw:

Rasulullah saw bersabda: “Ada lima orang yang dimohonkan laknat atas mereka dan semua nabi mengaminkannya: (1) Orang yang menambah kitab Allah dan meninggalkan sunnahku, (2) orang yang mendustakan takdir Allah, (3) orang yang mengatakan halal atas nama keluargaku apa yang diharamkan oleh Allah, (4) orang yang mementingkan dirinya dalam harta rampasan perang yang dihalalkan baginya, (5) orang yang mengajak berbuat baik sementara dirinya meninggalkannya atau melarang orang lain berbuat dosa sementara dirinya melakukannya.” (Al-Wasail11: 271).

Minggu, 31 Januari 2016

Selektif Menerima Informasi (surat al-Hujurat ayat 6). Iblis selalu ,mengilhami Ghibah dan Fitnah pada orang-orang Fasik.



Selektif Menerima Informasi
Wahai orang-orang yang Beriman, apabila datang seorang fasiq dengan membawa suatu informasi maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena suatu kebodohan, sehingga kalian menyesali perbuatan yang telah kalian lakukan (al-Hujurat:6)

Surat at-Hujurat ini diturunkan setelah Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah). Sejak saat itu suku-suku yang ada di Jazirah Arab berbondong-bondong masuk Islam. Termasuk di dalamnya adalah Suku al-Musthaliq, yang di pimpin oleh al-Haris bin Dlirar. Meskipun masuknya Islam al-Harits diawali dengan sebuah peperangan, toh keislaman al-Harits ini tidak diragukan. Apalagi putrinya yang bernama al-Juwairiyah dinikahi oleh Rasulullah saw.

Surat al-Hujurat secara keseluruhan membimbing kehidupan bermasyarakat yang Islami. Surat ini mengajarkan bagaimana bersikap yang benar terhadap Rasulullah, bagaimana bersikap yang baik terhadap sesama mukmin, dan juga mengajarkan kewajiban dan tanggung jawab terhadap masyarakat Islam. Petunjuk-petunjuk tersebut bertujuan untuk menjaga dan memelihara keutuhan masyarakat Islam, dijauhkan dari intrik-intrik musuh, maupun kecerobohan internal umat Islam yang membahayakan masyarakat Islam.
Tak bisa dielakkan, kehidupannya manusia selalu dihadapkan pada berbagai masalah, baik pribadi maupun sosial. Tidak ada kehidupan tanpa masalah, justru dengan berbagai masalah itulah manusia hidup. Demikian juga yang dihadapi oleh kaum muslimin dan masyarakat Islam. Berbagai masalah muncul di hadapan mereka untuk dihadapi dan diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Dalam menyelesaikan masalah ini, ada satu faktor kunci yang menjadi dasar pijakan, yaitu informasi. Bagaimana pun, seseorang mengambil keputusan berdasarkan kepada pengetahuan, dan pengetahuan bergantung kepada informasi yang sampai kepadanya. Jika informasi itu akurat, maka akan bisa diambil keputusan yang tepat. Sebaliknya, jika informasi itu tidak akurat akan mengakibatkan munculnya keputusan yang tidak tepat. Dan giliran selanjutnya, muncul kedhaliman di tengah masyarakat.

Sebab turunnya ayat

Setelah perang Bani Mushthaliq dinyatakan selesai, Rasulullah saw membagi-bagikan ghanimah dan tawanan kepada kaum muslimin. Tawanan itu diserahkan untuk menjadi budak. Tawanan yang menjadi hak Rasulullah adalah Juwairiyah, anak pemimpin Bani Musthaliq. Dan Rasulullah saw tidak menjadikan Juwairiyah sebagai budak, tetapi justru kemudian menikahinya. Tindakan Rasulullah ini mendorong para shahabat kemudian membebaskan para budak yang berasal dari Bani Mushthaliq. Dan di sisi lain, tindakan Rasulullah saw menikahi Juwairiyah binti al-Harits ini membuat al-Harits bin Dlirar merasa mendapatkan kehormatan yang sangat tinggi. Maka ketika al-Harits ini mengunjungi Rasulullah saw, beliau mengajaknya untuk masuk Islam. Berbeda dengan sikap sebelumnya, al-Harits mudah saja untuk menerima tawaran Rasulullah saw untuk masuk Islam.
Sesudah masuk Islam Rasulullah saw memerintahkan al-Harits untuk mengajak kabilahnya masuk Islam dan membayar zakat. Al-Harits pun menyatakan kesediaan dan kesanggupannya. Kepada Rasulullah, Al-Harits menyatakan, “Saya akan pulang ke kampung saya untuk mengajak orang untuk masuk Islam dan membayar zakat dan bila sudah sampai waktunya, kirimkanlah utusan untuk mengambilnya.” Namun ketika kaum Bani Musthaliq sudah menerima Islam, dan zakat sudah banyak dikumpulkan sedang waktu yang disepakati oleh Rasul untuk mengambil zakat telah tiba, ternyata utusan beliau belum juga datang. Maka Al-Harits merasa khawatir kalau-kalau ada sesuatu yang tidak berkenan di hati Rasulullah saw. yang menyebabkan beliau tidak kunjung mengirimkan utusan. Al-Harits khawatir kalau persoalan ini akan berakibat buruk bagi dirinya dan kaumnya.
Setelah melalui musyawarah dengan tokoh-tokoh Bani Musthaliq, al-Harits merasa harus datang kepada Rasulullah saw, bukannya menanti kedatangan utusan beliau yang akan menarik zakat. Dan keberangkatan ke Madinah dipimpin sendiri oleh al-harits dan diikuti oleh serombongan tokoh bani Musthaliq, untuk menyerahkan zakat itu kepada Nabi.
Sementara itu, dalam waktu yang hampir bersamaan Rasulullah saw. mengutus Al-Walid bin Uqbah untuk mengambil zakat yang telah dikumpulkan al-Harits. Di tengah Jalan al-Walid melihat al-Harits beserta sejumlah orang berjalan menuju Madinah. Didasari oleh ingatan akan permusuhan di masa jahiliyah antara dirinya dengan al-Harits, timbul rasa gentar di hati Al-Walid, jangan-jangan al-Harits akan menyerang dirinya. Karena itulah kemudian ia berbalik kembali ke Madinah dan menyampaikan laporan yang tidak benar.
Al-Walid melaporkan kepada Rasulullah saw bahwa Al-Harits tidak mau menyerahkan zakat, bahkan ia akan dibunuhnya. Rasulullah saw tidak langsung begitu saja percaya, beliau pun mengutus lagi beberapa sahabat yang lain untuk menemui Al-Harits. Ketika utusan itu bertemu dengan Al-Harits, ia berkata,
“Kami diutus Rasulullah saw untuk bertemu denganmu.”
Al-Harits bertanya, “Ada apa?”
Utusan Rasulullah itupun menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah saw telah mengutus Al-Walid bin Uqbah, untuk mengambil zakat, lalu ia mengatakan bahwa engkau tidak mau menyerahkan zakat bahkan mau membunuhnya.”
Al-Harits menjawab, “Demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan sebenar-benarnya, aku tidak melihatnya dan tidak ada yang datang kepadaku.”
Maka ketika mereka sampai kepada Nabi saw., beliau pun bertanya, “Apakah benar engkau menolak untuk membayarkan zakat dan hendak membunuh utusanku?”
“Demi Allah yang telah mengutusmu dengan sebenar-benarnya, aku tidak berbuat demikian.”
Maka turunlah ayat tersebut untuk membenarkan pengakuan al-Harits.

Petunjuk Ayat

Turunnya ayat ini untuk mengajarkan kepada kaum muslimin agar berhati-hati dalam menerima berita dan informasi. Sebab informasi sangat menentukan mekanisme pengambilan keputusan, dan bahkan entitas keputusan itu sendiri. Keputusan yang salah akan menyebabkan semua pihak merasa menyesal. Pihak pembuat keputusan merasa menyesal karena keputusannya itu menyebabkan dirinya mendhalimi orang lain. Pihak yang menjadi korban pun tak kalah sengsaranya mendapatkan perlakuan yang dhalim. Maka jika ada informasi yang berasal dari seseorang yang integritas kepribadiannya diragukan harus diperiksa terlebih dahulu.
Perintah memeriksa ini diungkapkan oleh al-Qur’an dalam kata fatabayyanu. Makna kata tersebut akan semakin mantap kita fahami dengan memperhatikan bacaan al-Kisa’i dan Hamzah, yang membaca kata tersebut dengan fatatsabbatu. Kedua kata tersebut memiliki makna yang mirip. Asy-Syaukani di dalam Fath al-Qadir menjelaskan, tabayyun maknanya adalah memeriksa dengan teliti, sedangkan tatsabbut artinya tidak terburu-buru mengambil kesimpulan seraya melihat berita dan realitas yang ada sehingga jelas apa yang sesungguhnya terjadi. Atau dalam bahasa lain, berita itu harus dikonfirmasi, sehingga merasa yakin akan kebenaran informasi tersebut untuk dijadikan sebuah fakta.
Informasi yang perlu dikonfirmasikan adalah berita penting, yang berpengaruh secara signifikan terhadap nasib seseorang, yang dibawa oleh orang fasik. Tentang arti fasik, para ulama’ menjelaskan mereka adalah orang yang berbuat dosa besar. Sedang dosa besar itu sendiri adalah dosa yang ada hukuman di dunia, atau ada ancaman siksa di akhirat. Berdusta termasuk dalam salah satu dosa besar, berdasarkan sabda Rasulullah saw;
“Maukah kalian aku beritahukan tentang dosa besar yang paling besar, lalu beliau menjelaskan, kata-kata dusta atau kesaksian dusta” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Sebenarnya persoalan dusta sebagai dosa besar atau dosa kecil tergantung pada masalah yang diberitakan secara dusta. Jika materi informasi tersebut menyangkut persoalan penting yang berimplikasi besar, maka berdusta bisa masuk kategori dosa besar. Tetapi jika persoalan yang disampaikan secara dusta itu persoalan sepele, dan tidak berimplikasi apa-apa, bisa masuk dosa kecil. Meskipun begitu, kebiasaan dusta itu sendiri adalah kebiasaan yang sangat tidak baik, sehingga di dalam bai’at Aqabah Rasulullah saw memasukkan unsur ‘tidak berdusta’ ke dalam salah satu point bai’at. Terlepas dari dosa besar atau dosa kecil, orang yang biasa berdusta menunjukkan bahwa kepribadiannya meragukan, sehingga kata-katanya tidak bisa dipercaya.
Dan mengenai berita yang perlu dikonfirmasi adalah berita penting, ditunjukkan dengan dibunakannya kata naba’ untuk menyebut berita, bukan kata khabar. M. Quraish Shihab dalam bukunya Secercah Cahaya Ilahi halaman 262 membedakan makna dua kata itu. “Kata naba’ menunjukkan berita penting, sedangkan khabar menunjukkan berita secara umum. Al-Qur’an memberi petunjuk bahwa berita yang perlu diperhatikan dan diselidiki adalah berita yang sifatnya penting. Adapun isu-isu ringan, omong kosong, dan berita yang tidak bermanfaat tidak perlu diselidiki, bahkan tidak perlu didengarkan karena hanya akan menyita waktu dan energi.”
Dalam soal mentabayyun berita yang berasal dari orang yang berkarakter meragukan ini ada teladan yang indah dari ahli hadis. Mereka telah mentradisikan tabayyun ini di dalam meriwayatkan hadis. Mereka menolak setiap hadis yang berasal dari pribadi yang tidak dikenal identitasnya (majhul hal), atau pribadi yang diragukan intgritasnya (dla’if). Sebaliknya, mereka mengharuskan penerimaan berita itu jika berasal dari seorang yang berkepribadian kuat (tsiqah). Untuk itulah kadang-kadang mereka harus melakukan perjalanan berhari-hari untuk mengecek apakah sebuah hadis yang diterimanya itu benar-benar berasal dari sumber yang valid atau tidak.
Tetapi sayang, tradisi ini kurang diperhatikan oleh kaum muslimin saat ini. Pada umumnya orang begitu mudah percaya kepada berita di koran, majalah atau media massa. Mudah pula percaya kepada berita yang bersumber dari orang kafir, padahal kekufuran itu adalah puncak kefasikan. Sehingga dalam pandangan ahlul hadis, orang kafir sama sekali tidak bisa dipercaya periwayatannya.
Sebagai misal, ketika mereka menuduh seseorang atau kelompok sebagai teroris, maka serta merta semua orang seperti koor mengikuti berita itu secara taken of granted. Akibat dari informasi tersebut, sebagian umat Islam menjadi terpojok dan terkucil, dan bisa jadi terdhalimi. Sementara orang-orang kafir mendapatkan dukungan sehingga berada di atas angin Dalam persoalan seperti ini seharusnya orang Islam berhati-hati, jika tidak mengetahui informasi secara persis maka harus bersikap tawaqquf (diam) Jangan mudah memberikan respon, pendapat, analisa atau sikap terhadap orang lain jika informasi yang diperolehnya belum valid. Sebab jika tidak, ia akan terjerumus pada sikap mengikuti isyu, dan akhirnya menetapkan sebuah keputusan tanpa fakta. Padahal Allah telah berfirman;
”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban”. (al-Isra’:36)
Teladan untuk bertawaqquf terhadap berita yang tidak jelas ini pernah diberikan oleh Rasulullah saw dan para shahabat ra ketika terjadi berita dusta mengenai diri Aisyah. Orang-orang munafik sengaja menyudutkan Aisyah, yang tertinggal di tengah padang pasir sekembali dari perang bani Mushthaliq. Mereka menuduhnya telah melakukan selingkuh dengan orang lain. Para shahabat yang telah teruji keimanannya ketika ditanya tidak ada yang mau memberikan komentar, hingga akhirnya Allah swt menjelaskan persoalan itu yang sebenarnya. Dan dengan berhati-hatinya terhadap berita ini menjadikan kaum mukminin terhindar dari penyesalan, karena menfitnah orang, apalagi dia Ummul Mukminin.Allahu a’lam bish-shawab.